Being a Super Mom?

February 7, 2012

Menjadi Ibu bukanlah pekerjaan mudah. Saya rasa siapapun yang sudah menjadi Ibu pasti setuju dengan pernyataan tersebut. Bagi saya, membagi waktu antara mengurus keluarga dengan tiga balita yang jarak usianya berdekatan dan mengurus bisnis ibarat aktivitas yang tiada pernah henti. Ditambah dengan komitmen saya dan suami untuk semaksimal mungkin berada dekat dengan anak-anak tentunya membutuhkan usaha yang tidak mudah ditengah kesibukan mengurus bisnis yang juga butuh perhatian. Keinginan menjadi Ibu Super, yang sukses mengurus keluarga sekaligus sukses sebagai pebisnis, ibaratnya menjadi tujuan yang ingin dicapai. Melihat pada kenyataannya, keinginan tersebut butuh komitmen, usaha dan strategi yang terus menerus dicoba demi mendapatkan pola dalam keluarga yang paling sesuai.

Kunci dari semua usaha ini adalah berusaha untuk tetap santai, rasional dan tak perlu malu minta bantuan. Ibu baru yang terobsesi menjadi “super mom”cenderung lebih tertekan, bahkan rentan depresi. Saya pernah mengalami ini, saat baru melahirkan anak pertama. Selama kurang lebih dua minggu saya terkena syndrom baby blues. Ketidaktahuan dan minim pengalaman sebagai Ibu baru membuat saya cukup stress saat itu. Saya sempat merasa, bahwa ternyata memiliki bayi tidak seindah kelihatannya. Saya yang dulunya begitu aktif dan tidur dengan cukup, ternyata harus bergadang tiap malam demi bayi saya. Dan ternyata pengalaman ini juga banyak menimpa ibu-ibu baru yang lainnya. Namun, syukurlah berkat dukungan suami, saya bisa melewati masa baby blues itu dan bisa beradaptasi dengan cepat. Saya mulai bisa menyesuaikan diri dan menemukan pola aktivitas yang bisa membuat saya nyaman dalam mengurus anak. Berkat adaptasi itulah, saat melahirkan anak ke-2 dan ke-3 saya jauh lebih rileks dan alhamdulillah, sama sekali tidak terkena baby blues lagi.

Rasanya, semua wanita pasti ingin jadi sempurna. Sempurna sebagai istri, ibu dan karir/bisnis. Begitupun saya. Namun saya lupa, bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah SWT. Yang namanya manusia, pastilah memiliki kekurangan. Tidak semuanya bisa dilakukan sendiri. Saat inipun saya juga dibantu oleh tanten-nya anak-anak dan asisten rumah tangga yang membuat saya lebih mudah mengatur kebutuhan & urusan keluarga. Untuk hal-hal yang bukan urgent & bisa didelegasikan, maka akan saya delegasikan.Tante dan ART ini saya menyebutnya “TEAM”. Mereka besar artinya buat saya, karena membantu mempermudah aktivitas saya.

Walaupun bekerja kantoran, dengan mengatur jadwal dan memberi pengertian pada anak-anak bahwa Mamanya juga sedang bekerja, sejauh ini anak-anak cukup pengertian. Walau masih balita, mereka sudah bisa memahami bahwa ibunya sedang bekerja. Ternyata dengan selalu melibatkan mereka dalam diskusi sehingga mereka juga belajar memahami kondisi. Alhamdulillah, kondisi ini masih berjalan dengan baik.

Jadi, kembali lagi…menjadi Ibu Super buat saya masih sebuah keniscayaan, walau saya juga yakin bahwa banyak yang bisa melakukannya. Saya akan terus berusaha, menjadi istri dan ibu yang terbaik, semampu yang saya bisa usahakan. Memaksimalkan kelebihan dan meminimalkan kekurangan. Bismillah…perjalanan masih panjang.


Leave a Reply


− one = 3