it’s about How You Say It.

June 5, 2012

Ini adalah kasus klasik, terjadi dari dulu sampai saat ini. Cara berkomunikasi.
Memang, berkomunikasi adalah kegiatan keseharian yang kita lakukan. Tapi apakah benar kita melakukan komunikasi? Atau sebenarnya hanya berinteraksi?
Harus saya akui, saya seringkali gagal dalam menyampaikan pesan dan memberikan makna.
Sepaham apapun saya tentang pesan dan makna yang ingin disampaikan, akan tidak maksimal apabila cara penyampaiannya tidak sesuai dengan target penerima pesan tersebut. Komunikasi adalah tantangan buat saya, karena saya harus mampu mengesampingkan (dulu) ego cara saya dan mengedepankan bagaimana menghadapi si penerima pesan agar (ujung-ujungnya) tujuan saya tercapai, yaitu si penerima pesan memahami isi pesan saya dan (semoga) saya mendapat respon yang sesuai dengan yang diharapkan.

Bagi saya, hal yang paling sulit ketika melakukan ini adalah ketika berkomunikasi dengan orang-orang terdekat. Karena saya merasa mereka (seharusnya) sudah mengerti saya. Kalau bisa tanpa harus berkata-kata, mereka sudah tahu apa yang saya maksudkan. Tapi yang sering terjadi malah miscommunication yang berujung kekecewaan.
Ketika berkenaan dengan orang-orang terdekat, saya sadar, betapa seringnya saya menyampaikan pesan dengan sesuka hati tanpa mengacuhkan keadaan si penerima pesan. Pemakaian kata-kata yang semau-gue, melantunkan nada bicara yang sekenanya saja, bahkan sering merasa cukup hanya dengan memberikan gerak tubuh atau mimik wajah. Padahal yakin saya bisa melakukan hal itu dengan lebih pantas.

Begini deh, sama orang yang baru saya kenal, saya sangat sopan bertutur kata, memilih dan memilah mana hal yang patut disampaikan dan mana yang tidak, ditambah nada bicara yang ramah, tidak ketinggalan senyum manis melengkung di bibir. Bahkan kata-kata sopan seperti tolong, terima kasih, selalu terucap. Masa ketika bicara dengan orang-orang terdekat yang selama ini ada buat saya, malah jadi seadanya saja?

Apakah kedekatan dengan seseorang menjadi pembenaran bahwa kita bisa seenaknya saja karena merasa masing-masing kita sudah menerima satu sama lain apa adanya?

Semoga kebalikannya :)
Karena saya (baru) sadar, ini bukan masalah basa-basi, tapi karena mereka begitu (lebih) berharga dan besar maknanya, untuk seorang saya.


Leave a Reply


eight − 2 =